2

Astaghfirullah, Reaksi Buruk Ini Sering Dilakukan Orangtua, Kenapa Ya?

Share

Kenapa Ya? Sebuah pertanyaan yang muncul sebagai bentuk ungkapan keheranan atas fenomena yang masih selalu terjadi. Fenomena di mana orangtua masih sering bereaksi buruk terhadap anak. Reaksi yang muncul tatkala berada pada situasi anak berperilaku tidak seperti yang orangtua harapkan. Situasi saat anak berperilaku negatif.

Ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah kondisi yang normal. Di mana secara alamiah setiap orang termasuk orangtua akan bereaksi sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya. Namun demikian, hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.

Dr. Musthafa Abu Sa’ad, seorang ulama yang menulis tentang parenting mengatakan, bahwa reaksi buruk menunjukan suatu bentuk lemah mental, sehingga ingin sesegera mungkin menghilangkan ketegangan dan menyurutkan emosi. Karena mental yang lemah itulah perhatian orangtua sering tertuju pada diri sang anak bukan pada pemecahan masalahnya.

Ada sejumlah reaksi buruk yang masih sering orangtua lakukan. Reaksi buruk ini akan mengabaikan kita dari pemecahan masalah. Selain itu, reaksi tersebut akan dapat menghadirkan sosok “monster” dalam benak anak. Sehingga membuat kedekatan hubungan orangtua dan anak akan berkurang.

Reaksi buruk ini akan mengabaikan kita dari pemecahan masalah.

kenapaya.id

1. Bentakan

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering membentak anak

Bentakan dapat merusak bahasa komunikasi dan sikap saling memahami antara orangtua dan anak. Lalu dapat juga membuat anak bingung, antara takut atau ingin membela diri. Kemudian dapat membuat anak menjadi reaktif demi melindunginya dari aksi yang tidak disangka-sangkanya. Anak menjadi kehilangan nalar introspeksi perilakunya.

Cari Tahu Juga :  Jalankan Langkah Ini Orangtua Dan Anak Bisa Makin Akrab, Kenapa Ya?

Dampak negatif dari perilaku bentakan orangtua lebih buruk daripada pukulan. Anak dapat mengalami trauma psikis sepanjang hidupnya. Meskipun anak sudah besar, memori dan perasaan-perasaan negatif yang pernah dirasakan waktu kecil dapat muncul apabila mendengar suara teriakan atau bentakan.

2. Mencela dan mengomel

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering mencela anak

Omelan dan celaan yang sering orangtua lakukan dapat menanamkan rasa dendam dalam hati seseorang, termasuk seorang anak. Hubungan antara orangtua dan anak akan semakin rusak. Dan yang paling buruk adalah perasaan-perasaan positif dalam hati kedua pihak dapat semakin berkurang.

Kondisi yang tampak dari kepribadian anak adalah anak akan cenderung menjadi lebih nakal dari pertama kali kenakalan itu muncul. Hal itu sebagai bentuk rasa ingin memberontak dan membalas, namun karena tidak terlampiaskan akhirnya diluapkan pada perilaku-perilaku menyimpang.

3. Terlalu mendikte anak

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering mendikte anak

Orangtua yang sangat mengontrol hidup anak akan memilihkan semua yang dia anggap terbaik untuk anaknya, sehingga anak seringkali tak orangtua biarkan memutuskan sendiri keinginannya. Kebiasaan mendikte anak dapat memberi efek buruk pada kepribadian anak di kemudian hari.

Orangtua yang sering mendikte, dapat membuat anak menjadi kurang mandiri. Karena anak tumbuh dengan tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang masuk akal untuk diri mereka sendiri.

Sering mendikte dapat membuat anak kehilangan harga dirinya. Maksudnya harga diri anak menjadi lebih rendah. Karena orangtua kerap mengkritik, mengabaikan, dan meremehkan anak sebagai cara untuk menghukum ketika mereka gagal memenuhi harapan orangtua.

Cari Tahu Juga :  Orangtua Tidak Sadar Ternyata Ini Yang Dibutuhkan Anak, Kenapa Ya?

4. Mengancam

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering mengancam anak

Perilaku ini yang masih menjadi kebiasaan orangtua. Disadari atau tidak kita sebagai orangtua sering melontarkan kalimat-kalimat ancaman. Misal, “Kalau kamu tidak mau membersihkan kamarmu, semua mainanmu akan Mama kasih orang!”.

Mengancam seringkali menjadi cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin. Ketika kita sebagai orangtua sudah kehabisan akal untuk mengendalikan tingkah laku anak, mengancam menjadi kendali anak yang efektif.

Ancaman hanya efektif untuk sesaat saja, karena bukan atas dasar kesadaran, melainkan perasaan takut. Sehingga ancaman tidak mendidik anak untuk menjadi lebih bertanggung jawab. Anak yang terbiasa mendapat kalimat bermakna ancaman akan tumbuh menjadi anak yang tidak punya kepercayaan diri, mudah takut, atau sebaliknya cenderung memberontak.

5. Membanding-bandingkan Anak

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering membanding-bandingkan anak

“Kenapa kamu nakal banget, sih? Lihat tuh si Budi teman kamu, tenang dan nggak nakal!”. Pernahkah kita melakukannya pada anak?

Kecenderungan orangtua untuk membanding-bandingkan anaknya sendiri dengan anak orang lain (atau bahkan saudara kandung si anak itu sendiri), merupakan cara berpikir yang rasional untuk bisa mengetahui dan membedakan mana yang baik dan buruk.

Harapan dari membanding-bandingkan anak ini biasanya agar anak belajar untuk mencontoh sesuatu yang baik dari orang lain. Jika nasihat seperti ini anak tanggapi secara positif, maka akan tumbuh motivasi untuk mengubah dirinya jadi lebih baik.

Namun, hanya sebagian kecil anak yang menanggapi nasihat orangtua dengan cara demikian. Umumnya, anak-anak tidak suka menerima kritikan, juga belum begitu mengerti bagaimana harus merespon kritikan.

Namun, hanya sebagian kecil anak yang menanggapi nasihat orangtua dengan cara demikian. Umumnya, anak-anak tidak suka menerima kritikan, juga belum begitu mengerti bagaimana harus merespon kritikan.

kenapaya.id

Bagi anak yang sering dibanding-bandingkan namun belum paham akan membuat mereka meragukan dirinya sendiri. Anak mengalami krisis kepercayaan diri. Kemudian anak jadi berpikiran negatif bahwa ia tidak akan pernah sukses karena terus cemas dan takut gagal. Akibatnya, anak menjadi tidak percaya diri pada kemampuannya sendiri dan semakin terpuruk.

Cari Tahu Juga :  Keharmonisan Rumah Tangga Meningkat Saat Ramadhan, Kenapa Ya?

Anak akan merasa cemburu. Kecemburuan yang terpupuk sejak kecil tidak baik untuk kesehatan jiwa anak karena dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, atau kekecewaan mendalam baik pada diri sendiri maupun orangtua dan teman-temannya.

6. Mengungkit keburukan anak

Mengungkit keburukan anak dapat mengakibatkan anak merasa terlihat buruk di mata orangtuanya. Sehingga anak menjadi rendah diri, kurang percaya diri, dan lemah motivasi akibat selalu muncul pikiran-pikiran negatif terhadap orangtua atas perilaku dirinya.

7. Berprasangka buruk dan menuduh

Reaksi buruk orangtua pada anak
Orangtua sering menuduh anak

Orangtua memang memiliki banyak pengalaman hidup. Pengalaman yang bisa baik atau buruk. Meskipun begitu, jika kita sebagai orangtua selalu menafsirkan perilaku anak secara negatif dengan dasar pengalaman kita, itu sama dengan berprasangka buruk.

Prasangka negatif menunjukkan tidak adanya kepercayaan orangtua kepada anak. jika rasa saling percaya telah menipis, maka pintu komunikasi antara orangtua dan anak akan tertutup. Sebab sebuah hubungan yang kokoh tidak mungkin dibangun kecuali jika ada rasa saling percaya.

Mendidik anak tentunya tidak mudah. Mendidik anak berjalan terus seumur hidup kita. Karena anak kita memiliki pikiran dan perasaannya sendiri, maka dalam mendidik mereka harus benar-benar hati-hati. Jangan sampai, niat hati ingin membentuk mereka menjadi pribadi yang sholeh seperti yang kita harapkan, namun hasilnya ternyata sebaliknya.

Untuk itu, mengetahui beberapa reaksi buruk yang masih mungkin sering kita lakukan ini, baik sadar atau tidak sadar, bisa menjadi bahan evaluasi diri dan harus kita hindari. Lalu berusaha mencoba berbagai alternatif perilaku pengasuhan positif untuk kebaikan anak-anak tercinta kita.

Share via